•  

    Worship - Sundays 9:30am

    Join us for a high energy worship experience!

     
  •  

    Worship Location

    Join us for a high energy worship experience!

     

WATCH LIVE AT 9:30 am EVERY SUNDAY

Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus

dinamika hidup

dinamika hidupRoh Kudus adalah Pendamping, Penolong, Penghibur, dan Pendoa syafaat yang diam di dalam Saudara.

Bagaimana cara Dia memimpin Saudara? Ada orang yang berkata, “Saya ingin Roh Kudus memimpin saya melalui mimpi dan Ia memberitahukan kehendak-Nya kepada saya.” Atau, “Saya ingin Roh Kudus memimpin saya melalui bisikan suara hati yang sangat jelas.” Banyak orang ingin agar Roh Kudus masuk ke dalam rumahnya, lalu berkata-kata dengan suara keras memberitahukan pimpinan-Nya.

Di dalam Alkitab memang ada tercantum bahwa Tuhan memimpin seseorang melalui kata-kata, mujizat, mimpi, nubuat, atau melalui nabi-nabi. Sampai saat ini Tuhan juga masih mungkin melakukan hal-hal itu. Tetapi itu bukanlah satu-satunya cara, sehingga kita harus menuntutnya.

Jangan Saudara mencoba meniru Gideon yang meminta tanda dengan bulu domba (Hakim-hakim 6:36-40). Juga, jika dahulu orang memakai cara membuang undi, maka tidak berarti Saudara pun bisa mencoba-coba menirunya. Juga, jangan memakai cara membuka Alkitab dan secara acak menunjuk satu ayat guna mengetahui kehendak Tuhan.

Bagaimana seandainya ada orang yang mencari pimpinan Tuhan, lalu ia membuka Alkitab dan menunjuk satu ayat secara acak, tapi ternyata ayat yang ia dapat adalah Matius 27:5, “Maka Yudas pergi menggantung diri.” Lalu ia berkata kepada Tuhan, “Wah yang ini tidak cocok bagiku, sekali lagi ya Tuhan.” Tuhan tidak akan memakai cara demikian untuk memimpin Saudara.

Tuhan memimpin seseorang dengan Firman-Nya dalam Alkitab. Tetapi Firman Tuhan itu harus dibaca, direnungkan, dipelajari, dimengerti, dan dimaknai secara benar. Perlu cara yang benar untuk menggali Alkitab secara seksama sehingga prinsip-prinsip kebenaran Alkitab tersebut akan Saudara dapatkan. Untuk itu, Saudara sendiri harus menggali, menemukan, menggali dan merenungkan, serta membandingkannya dengan pikiran para penafsir Alkitab besar.

Saya menganjurkan agar setiap gereja memiliki perpustakaan yang berisi buku-buku berbobot. Saya juga menganjurkan supaya setiap persekutuan kampus dan kelompok pemahaman Alkitab memiliki buku-buku tafsiran, buku-buku teologi sistematika, buku-buku apologetika, buku-buku misi dan penginjilan yang berbobot.

Ketika Saudara mendapatkan kesulitan di dalam penafsiran, Saudara tidak dapat mengatakan bahwa Saudara mendapat pimpinan Roh Kudus, dan yang lain juga mengatakan hal yang sama, padahal penafsiran mereka berbeda, sehingga pada akhirnya membawa kepada perselisihan.

Dengan buku-buku yang baik, kita bisa kembali kepada ajaran yang benar. Semua ini karena Roh Kudus memimpin manusia dengan cara memberikan pencerahan pada Firman Tuhan. Jika Firman Tuhan hanya dibaca untuk dihafalkan dan dilombakan dalam pertandingan cerdas cermat, maka Alkitab tidak akan lagi memberikan makna yang dalam. Tetapi, jika Firman itu dibaca dengan hati yang mau taat, mau mengerti, mau rendah hati di bawah pimpinan Roh Kudus, maka Firman itu akan bercahaya.

Menjadi orang benar berarti menjadi orang yang sungguh-sungguh mau menjalankan Firman. Mungkin ada orang yang berkata, “Jika Firman itu jelas, saya pasti akan menjalankannya, tetapi kalau tidak jelas, bagaimana?” Misalnya, jangan membunuh atau jangan mencuri, itu jelas. Tetapi bagaimana jika dalam situasi perang? Di dalam Alkitab tidak pernah dikatakan tidak boleh berperang, tetapi di dalam peperangan kita mungkin harus membunuh. Jadi, bagaimana?

Hal ini ada di dalam wilayah etika Kristen yang perlu didukung dengan penyelidikan yang baik. Sebenarnya untuk hal-hal seperti itu, sudah ada prinsip-prinsip tertentu yang telah disisipkan di dalam Alkitab, yang perlu kita gali dengan baik. Misalnya, di dalam peperangan yang agresif, dimana kita menjajah bangsa lain, membunuh orang lain yang tidak bersalah, hal itu berdosa.

Martin Luther berkata, “Di dalam peperangan yang sedemikian, sebagai orang Kristen yang tidak mau melawan Tuhan dan hati nurani yang taat kepada Tuhan, silakan tidak ikut perang.” Meskipun pemerintah memerintahkan Saudara ikut perang, Saudara harus menolak, karena Saudara tahu itu hal yang salah, merupakan tindakan agresif, maka lebih baik Saudara dipenjarakan oleh pemerintah Saudara sendiri, daripada Saudara pergi dan membunuh orang lain.

Tetapi Martin Luther juga berkata, “Sebaliknya, jika negaramu dijajah pihak lain, lalu engkau berjuang untuk membasmi kejahatan penjajah, membela negaramu, membela rakyat negaramu yang dijajah dan yang tidak bersalah, sampai harus mati pun, silakan engkau berperang.

Dan, jika di dalam peperangan sedemikian harus ada orang yang terbunuh, engkau melakukan itu bukan demi membunuh, melainkan demi membasmi kejahatan, maka Tuhan akan campur tangan dalam hal itu.” Dalam prinsip-prinsip etika seperti ini, kita tidak dapat secara mudah mengatakan “Tuhan memimpin saya”, lalu saya menetapkan keputusan saya sendiri. Kita harus mendapatkan prinsip Alkitab yang jelas tentang bagaimana Tuhan memimpin.

Tuhan memimpin Saudara dengan Firman dan prinsip Firman. Alkitab memberikan prinsip-prinsip Alkitab yang cukup untuk membangun etika Kristen di dalam pimpinan Tuhan. Tiga prinsip dasar yang harus diingat adalah:

  1. Apakah hal itu mempermuliakan Tuhan?;
  2. Apakah hal-hal itu dapat menjadi berkat bagi orang lain, atau malah sebaliknya; dan
  3. Apakah hal-hal itu akan mengikat saya ke dalam dosa atau tidak.

Dengan tiga prinsip dasar ini, kita diharap untuk dapat memastikan terlebih dahulu semua hal yang akan kita kerjakan. Kalau ketiga hal tersebut secara keseluruhan sudah terpenuhi, maka kita dapat mengerjakan hal itu, tetapi jika salah satu daripadanya tidak terpenuhi, maka kita tidak boleh melakukannya.

Sumber diambil dan diedit dari  buku: Dinamika Hidup dalam Pimpinan Roh Kudus yang ditulis oleh Pdt. DR Stephen Tong

  • Share

Recent GKI Posts