Menu Utama
Home
Sejarah GKI Samanhudi
Visi & Misi GKI Samanhudi
Warta Jemaat PDF
Kegiatan
 Bidang Pembangunan Jemaat
Bidang Persekutuan
Bidang Kesaksian Pelayanan
Bidang Sarana Penunjang
Komisi Anak
Komisi Remaja
Komisi Pemuda
Komisi Dewasa UP Wanita
Komisi Lansia
Komisi Musik
Komisi Pelawat
Komisi Peranan
Komisi Pramuka
Personalia
 Informasi Pendeta
Komisi Anak
Komisi Pemuda
Komisi Remaja
Komisi Dewasa UP Wanita
Komisi Lansia
Komisi Pelawat
Komisi Musik
Pramuka
Peranan
Keluarga
 Perkawinan
Orang Tua
Pojok Kreatif Anak
Komunitas
 Forum Diskusi
Chatting
Permohonan Doa
GKI FriendSter
Serba Serbi GKI
 Kelas Katekisasi
 Pengakuan Iman Rasuli
Pelayanan Pastoral
Jadwal Kebaktian
Jadwal Sekolah Minggu
Kalendar Acara
Susunan Majelis Jemaat 2010 - 2011
Koleksi Lagu Rohani
Photo Gallery
Peserta Tabitha
Jalan ke Gereja
Buku Tamu
Links
Pengurus Web Site
Search
Anggota Site GKI Login

Calendar GKI
 
Calendar
 
February   2012
Sun
Mon
Tue
Wed
Thu
Fri
Sat
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
16
17
18
19
20
21
22
23
24
25
26
27
28
29
 
 
 
Donatur
 
 

Kehidupan Jemaat GKI Samanhudi

3.1 Masa Konsolidasi/Periode Krekot (1953 - 1955)

Setelah timbulnya peristiwa Patekoan, maka diusahakan adanya pos-pos pekabaran Injil di Berok (kawasan Pasar Ikan) dan di Teratai (kawasan Tubagus Angke). Pos-pos tersebut melayani para anggota jemaat yang berdomisili di daerah kota. Bertempat di rumah keluarga Tan Ngo Liong di Gg. Terate No. 29 dan di rumah keluarga Ny. Jo Rie Nio di Jalan Ekor Kuning Jakarta.

Kebaktian Minggu di Gedung "Tjheng Lian Hwee". Suasana seperti ini berlangsung sejak tahun 1953 sampai dengan tahun 1955.

Anggota jemaat yang tidak berdomisili di daerah kota memusatkan kegiatan dan persekutuannya di Balai Pertemuan Kawula Muda (Tjheng Lian Hwee) yaitu di Jalan Krekot 28 (sekarang Samanhudi 28) Jakarta.

Gedung di Jalan Krekot No. 28, menjelang pembongkaran menjadi gedung GKI Samanhudi.

Bangunan balai pertemuan itu berbentuk rumah tinggal, namun serbaguna. Setiap hari kerja berfungsi sebagai kantor Badan Pendidikan Kristen Jabar, TKK BPK Jabar KPS Jakarta, SMEPK BPK Jabar KPS Jakarta, Sekolah Minggu, tempat kegiatan pemuda dan tempat kegiatan pramuka. Setiap Sabtu sore diubah menjadi tempat kebaktian, untuk dipakai pada hari Minggu pagi. Kursi-kursi diatur sedemikian rupa agar cukup untuk jemaat yang hadir. Di tempat itulah para jemaat melaksanakan kebaktian. Seusai kebaktian, ruangan itu dirapikan, dibersihkan, dan difungsikan kembali sebagai kantor dan sekolah.

Kegiatan pramuka yang diadakan di Tjheng Lian Hwee adalah kegiatan pramuka ranting Pasar Baru. Status kegiatan tersebut adalah kegiatan ekstra organisasi gerejawi. Kegiatan ini secara organisasi di bawah Kwartir Nasional, tetapi perhatian jemaat terhadap kegiatan ini cukup besar. Bahkan peserta dan pemimpin kegiatan ini pun sebagian besar dari kalangan jemaat itu sendiri. Rupanya sangat disadari bahwa kegiatan pramuka merupakan wadah yang penting untuk berbaur dan bermasyarakat.

Kisah Persil Krekot 28 ini berliku dan unik. Pada mulanya berstatus rumah sewaan yang dikelola oleh Majelis Jemaat Patekoan sejak tahun 1946. Pemiliknya adalah Tuan Gehimal, seorang pengusaha tekstil di Pasar Baru. Timbulah sengketa. Majelis Patekoan yang waktu itu berstatus penyewa yang sah, hampir kehilangan statusnya akibat tindakan Urusan Persengketaan Perumahan (UPP). Tercatatlah peristiwa itu sebagai saat perjuangan Tjheng Lian Hwee yaitu tanggal 2 Januari 1952 mempertahankan persil Krekot 28. Rapat kilat diadakan, kemudian para anggota jemaat melakukan unjuk rasa di depan Balai Pertemuan Kawula Muda itu. Kata-kata protes yang ditulis pada kain rentang pun digelar. Protes itu ditujukan kepada UPP dan pejabat-pejabatnya. Pihak pengunjuk rasa mendapat dukungan dari Mr. Yap Thiam Hien. Ia bertindak selaku pembela. Puji Tuhan sengketa itu akhirnya terselesaikan, bahkan Jemaat GKI Kelinci berhasil membeli persil Krekot 28 itu pada tahun 1961.

Jemaat GKI Samanhudi (Krekot) tahun 1953 - 1955 belum mempunyai pendeta sendiri. Pimpinan pelayanan dilakukan oleh Pendeta Konsulen yaitu Pendeta Samuel Messah (Tjan Tong Ho) dari GKI Gunung Sahari IV/8. Sedangkan Tan Kong Djin sebagai guru Injil.

 Pdt. Samuel Messah melayani baptis sidi di GKI Kelinci.

 

NEXT >>