•  

    Worship - Sundays 9:30am

    Join us for a high energy worship experience!

     
  •  

    Worship Location

    Join us for a high energy worship experience!

     

WATCH LIVE AT 9:30 am EVERY SUNDAY

AGAMA

Pada waktu putri saya masih balita dan mengikuti Sekolah Minggu, pernah dia bertanya kepada saya dan istri saya, begini pertanyaannya: “Tuhan itu agamanya apa?”. Saya dan istri sejenak tertegun dan terpengarah dengan pertanyaan yang tidak kami duga. Maka dengan pemahaman agama saya saat itu yang pas-pasan, saya menjawabnya dengan jawaban yang sekedarnya saja, yang penting bisa memenuhi keingintahuan seorang anak balita. Bagaimana jawaban anda apabila mendapatkan pertanyaan seperti tersebut diatas? Apabila yang dimaksud oleh putri saya dengan Tuhan adalah Yesus Kristus, tentu saja Yesus sebagai manusia adalah penganut agama Yahudi.

Menurut eyang Google, sesuai dengan data pada tahun 2014, ada sekitar 4.200 agama dan kepercayaan di dunia, wow banyak amat ya. Kita sepakat bahwa semua agama pasti mempunyai ajaran yang baik dan mulia, yang mengajarkan kepada umatnya untuk menjadi orang yang saleh dan berperilaku baik.

Namun kenyataannya bagaimana? Dunia dengan agama sebanyak itu masih saja diliputi dengan peperangan di banyak tempat. Kita bisa menyaksikan melalui media cetak maupun elektronik, bahkan peperangan tersebut seringkali sangat kejam, segala macam senjata dipakai untuk memusnahkan dan membinasakan lawan dan musuh.

Tragedi kemanusiaan ini membuat jutaan manusia menjadi sangat menderita, banyak yang kemudian terusir dari negaranya atau sengaja mengungsi ke negara lain yang lebih aman. Selain perang yang seolah tidak berkesudahan ini, juga perilaku buruk manusia terjadi di mana-mana tempat, seperti tindak kekerasan, rasisme, diskriminasi, keserakahan yang berujung pada korupsi dan manipulasi, perusakan lingkungan hidup.

Yang lebih tragis dan memprihatinkan, bahkan sangat memalukan, masih saja terjadi kekerasan, penindasan dan penganiayaan yang disebabkan konflik antar agama. Maka tidaklah heran apabila empat dekade yang lalu, almarhum John Lennon melalui lagu ciptaannya Imagine, membayangkan dan memimpikan dunia tanpa agama, dengan harapan manusia bisa hidup lebih damai dan aman. Lagu tersebut diciptakan John Lennon sebagai aktifis perdamaian, melihat dunia dan penduduknya yang mengaku beragama, tapi tindak tanduknya jauh dari ajaran agama yang dianutnya, agama pada kenyataannya tidak mampu menjadikan dunia ini damai.

Lalu bagaimana dengan kita menghadapi kenyataan seperti tersebut diatas? Seharusnya sebagai pengikut Kristus, kita tidak boleh pesimis atau bahkan apatis dengan keadaan dunia yang carut marut ini. Manusia pasti mendambakan dunia yang aman dan damai, namun semua harus dimulai dari elemen terkecil dari masyarakat yaitu diri kita sendiri masing-masing.

Marilah kita introspeksi diri dengan jujur, cukup dengan satu pertanyaan: Apakah kita sudah menjalankan dengan benar ajaran Kasih yang Kristus ajarkan?

Seringkali kehidupan beragama kita hanya sebatas ritual ibadah rutin yang dijalani. Gereja sebagai kumpulan orang percaya mempunyai tanggung jawab untuk terus menerus meningkatkan spiritualitas anggotanya, menjadi berkat bagi masyarakat yang membutuhkan pertolongan, karena Kristus sang Kepala Gereja jelas sekali menghendaki supaya kita menjadi garam dan terang dunia (Matius 5 : 13 – 16). Kita dapat mempraktekkan ajaran Kristus mulai dari hal-hal yang sangat mendasar dan sederhana, nasehat Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia seperti tertulis di kitab Galatia 5 : 19 – 23 dengan sangat jelas memberi petunjuk kepada kita tentang hidup menurut daging atau Roh, tidak mudah memang untuk bisa menjalaninya, dibutuhkan upaya yang keras dan terus menerus, dan tentu saja memohon pertolongan Tuhan memberikan hikmat dan kemampuan kepada kita.

Tahun 2017 baru satu bulan kita lalui, sudah cukup banyak terjadi peristiwa di muka bumi ini, ada hal-hal yang menggembirakan, tapi tidak sedikit yang memprihatinkan, seperti bencana alam, kecelakaan alat transportasi, terorisme yang semakin meluas, peperangan yang tak kunjung reda. Semua ini, sekali lagi menuntut umat manusia termasuk kita untuk dapat secara konsisten menjalankan dan melaksanakan ajaran sesuai kepercayaan yang diyakininya.

Konon kabarnya hanya di negara kita yang mencamtumkan agama pada kartu identitas, mungkin ada baiknya juga, paling tidak pencantuman agama atau kepercayaan pada KTP dapat menjadikan kita untuk selalu ingat akan keyakinan kita, dan bisa menjadi kendali untuk menghindarkan diri dari perbuatan-perbuatan tercela. Semoga.

Penulis: Pnt. Eko Setiawan, Warta Jemaat GKI Samanhudi, 3 Feb 2017

  • Share

Recent GKI Posts